44. GOLONGAN IA

Sifat Fisik dan Sifat Atom dari Unsur-unsur Golongan 1

Halaman ini membahas tentang kecenderungan-kecenderungan pada beberapa sifat fisik dan sifat atom dari unsur-unsur Golongan 1 – lithium, natrium, kalium, rubidium dan cesium. Berikut disajikan secara terpisah beberapa bagian yang membahas tentang kecenderungan-kecenderungan jari-jari atom, energi ionisasi pertama, keelektronegatifan, titik lebur dan titik didih, dan berat jenis.

Anda disarankan membaca seluruh halaman ini, meskipun anda belum tertarik untuk mempelajari pokok bahasan yang disajikan sebab beberapa pembahasan pada halaman ini cenderung berulang sepanjang pembahasan mengenai sifat-sifat atom dan penjelasan terdahulu akan membantu anda dalam memahami penjelasan-penjelasan selanjutnya.

Kecenderungan Jari-Jari Atom

Pada gambar di atas anda bisa melihat bahwa semakin ke bawah Golongan, jari-jari atom semakin meningkat.

Penjelasan meningkatnya jari-jari atom

Jari-jari atom dipengaruhi oleh

  • jumlah kulit elektron di sekitar inti
  • tarikan yang dialami elektron dari inti.

Bandingkan antara lithium dan natrium:

Li 1s22s1
Na 1s22s22p63s1

Pada masing-masing unsur, elektron terluarnya mengalami tarikan sebesar 1+ dari inti. Muatan positif pada inti berkurang akibat kenegatifan elektron-elektron terdalam.

Ini juga berlaku bagi atom-atom lain dalam Golongan 1. Anda bisa membuktikan untuk unsur Kalium jika anda merasa kurang yakin.

Dengan demikian, satu-satunya faktor yang akan mempengaruhi ukuran atom adalah jumlah kulit elektron terdalam yang harus terdapat di sekitar atom. Jadi, semakin banyak kulit elektron, maka semakin banyak ruang yang diisi karena elektron saling menolak satu sama lain. Ini berarti bahwa atom-atom semakin kebawah Golongan akan semakin besar.

Kecenderungan Energi Ionisasi Pertama

Energi ionisasi pertama adalah energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron yang paling lemah ikatannya dari masing-masing satu mol atom gas untuk menghasilkan satu mol ion gas yang bermuatan tunggal – dengan kata lain, untuk 1 mol proses ini berlaku persamaan berikut:

Perhatikan bahwa energi ionisasi pertama semakin ke bawah Golongan semakin berkurang.

Penjelasan menurunnya energi ionisasi pertama

Energi ionisasi dipengaruhi oleh

  • muatan pada inti,
  • jumlah screening/penyaringan oleh elektron terdalam,
  • jarak antara elektron terluar dengan inti

Semakin kebawah Golongan, peningkatan muatan inti pasti diimbangi dengan peningkatan jumlah elektron terdalam. Seperti pada pembahasan tentang jari-jari atom sebelumnya, pada masing-masing unsur dalam Golongan ini, elektron-elektron terluar mengalami tarikan sebesar 1+ dari inti.

Akan tetapi, semakin ke bawah Golongan, jarak antara inti dan elektron terluar semakin meningkat sehingga elektron-elektron tersebut semakin mudah terlepas, akibatnya energi ionisasi berkurang.

Kecenderungan Keelektronegatifan

Kelektronegatifan merupakan ukuran kecenderungan sebuah atom untuk menarik sepasang elektron ikatan. Keelektronegatifan biasanya diukur dalam skala Pauling, dimana pada skala ini unsur yang paling elektronegatif (fluorine) diberi nilai kelektronegatifan 4,0.

Semua unsur pada gambar di atas memiliki kelektronegatifan yang sangat rendah. (Ingat bahwa unsur yang paling elektronegatif, fluorine, memiliki nilai kelektronegatifan 4,0.). Perhatikan bahwa keelektronegatifan akan berkurang semakin ke bawah Golongan. Atom-atom semakin berkurang gaya tariknya untuk pasangan-pasangan elektron ikatan.

Penjelasan berkurangnya keelektronegatifan

Coba anda bayangkan sebuah ikatan yang terbentuk antara satu atom natrium dengan satu atom klorin. Anggap ikatan ini terbentuk sebagai ikatan kovalen – yaitu memiliki satu pasang elektron bersama. Pasangan elektron ini akan tertarik ke arah klorin karena terdapat tarikan yang jauh lebih besar dari inti klorin dibanding dari inti natrium.

Pasangan elektron ini tertahan pada jarak yang begitu dekat ke klorin sehingga terjadi transfer satu elektron ke klorin – ion-ion terbentuk.

Tarikan besar dari inti klorin inilah yang menyebabkan mengapa klorin jauh lebih elektronegatif dibanding natrium.

Sekarang bandingkan ikatan di atas dengan ikatan antara lithium dan klorin.

Tarikan dari masing-masing ujung ikatan sama seperti pada ikatan sebelumnya antara natrium dan klorin, tapi perlu diingat bahwa atom lithium lebih kecil dari atom natrium. Ini berarti bahwa pasangan elektron akan lebih dekat ke muatan 1+ dari ujung lithium, dan dengan demikian lebih kuat tertarik ke lithium.

Pada beberapa senyawa lithium, sering terdapat sebuah karakteristik ikatan kovalen yang tidak ditemukan pada senyawa unsur-unsur lain dalam Golongan ini. Sebagai contoh, lithium iodida dapat larut dalam pelarut organik, sedangkan ini merupakan sebuah ciri khas dari senyawa-senyawa kovalen. Ini disebabkan karena atom iodin dalam senyawa lithium iodida cukup besar sehingga tarikan dari inti iodin terhadap pasangan elektron relatif lemah, sehingga tidak terbentuk ikatan ionik sempurna.

Ringkasan kecenderungan unsur-unsur semakin ke bawah Golongan

Apabila atom-atom logam menjadi lebih besar, setiap pasangan elektron ikatan akan terus menjauh dari inti logam, sehingga kurang kuat tertarik ke inti logam tersebut. Dengan kata lain, semakin ke bawah golongan, unsur-unsur menjadi semakin kurang elektronegatif.

Terkecuali beberapa senyawa lithium, unsur-unsur dalam Golongan 1 ini semuanya membentuk senyawa-senyawa yang dianggap sebagai senyawa ionik sempurna. Unsur-unsur ini memiliki keelektronegatifan yang sangat lemah sehingga kita berasumsi bahwa pasangan-pasangan elektron tertarik begitu jauh ke arah klorin (atau unsur lain yang membentuk ikatan dengan unsur-unsur ini) sehingga ion-ion terbentuk.

Kecenderungan Titik lebur dan Titik Didih

Dari gambar di atas kita bisa melihat bahwa baik titik lebur maupun titik didih semakin ke bawah Golongan, semakin berkurang.

Penjelasan kecenderungan titik lebur dan titik didih

Jika anda meleburkan logam manapun dari Golongan 1, ikatan logamnya akan menjadi cukup lemah sehingga atom-atomnya bisa bergerak bebas, dan kemudian ikatannya menjadi putus apabila logam dididihkan.

Penurunan titik lebur dan titik didih berarti menunjukkan penurunan kekuatan ikatan logam.

Atom-atom dalam sebuah logam dipertahankan oleh gaya tarik inti terhadap elektron-elektron yang terdelokalisasi. Ketika atom menjadi lebih besar, inti semakin menjauh dari elektron-elektron terdelokalisasi tersebut, sehingga gaya tarik berkurang. Ini berarti bahwa atom-atom lebih mudah terpisah untuk membentuk wujud cair dan pada akhirnya membentuk wujud gas.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, masing-masing atom ini memiliki tarikan dari inti sebesar 1+. Muatan yang meningkat pada inti semakin ke bawah Golongan diimbangi dengan bertambanya jumlah elektron screening/penyekat. Yang terpenting adalah jarak antara inti dengan elektron-elektron ikatan.

Kecederungan Berat Jenis

Perlu diketahui bahwa logam-logam pada Golongan 1 ini adalah logam-logam ringan – bahkan tiga logam pertama dalam Golongan ini lebih kecil berat jenisnya daripada air (kurang dari 1 g cm-3). Ini berarti bahwa tiga logam pertama akan mengapung dalam air, sedangkan yang lainnya akan tenggelam.

Berat jenis/kepadatan semakin ke bawah Golongan cenderung semakin meningkat (kecuali untuk kalium yang mengalami fluktuasi).

Penjelasan kencederungan berat jenis

Cukup sulit untuk memberikan sebuah penjelasan sederhana tentang kecenderungan berat jenis ini, karena berat jenis tergantung pada dua faktor, dimana kedua faktor ini semakin ke bawah golongan akan mengalami perubahan.

Semua logam pada Golongan 1 memiliki tatanan atom yang sama dalam molekulnya, sehingga yang harus dipertimbangkan adalah berapa banyak atom yang bisa termuat dalam sebuah volume tertentu, dan berapa massa masing-masing atom. Banyaknya atom yang bisa dimuat tentu saja tergantung pada volumenya – dan volume ini tergantung pada jari-jari atomnya.

Semakin ke bawah Golongan, jari-jari atom semakin meningkat, sehingga volume atom juga meningkat. Ini berarti bahwa jumlah atom natrium yang sama banyaknya dengan jumlah atom lithium tidak bisa dimuat pada volume tertentu yang sama.

Akan tetapi, semakin ke bawah Golongan, massa atom semakin meningkat. Ini berarti bahwa dalam jumlah yang sama, atom natrium memiliki massa yang lebih berat dibanding atom lithium.

Jadi 1 cm3 natrium akan mengandung lebih sedikit atom dibanding 1 cm3 lithium, meski setiap atom natrium memiliki massa yang lebih berat. Lalu pengaruh apa yang akan ditimbulkan oleh sifat ini terhadap berat jenis? Tidak mungkin mengetahuinya tanpa melakukan sedikit perhitungan!
Gunakan fasilitas pencarian kata dibawah ini untuk mencari kata di chem-is-try.org

Reaksi Unsur-unsur Golongan 1 dengan Air

Pada halaman ini anda akan melihat reaksi-reaksi unsur-unsur Golongan 1 – lithium, natrium, kalium, rubidium dan cesium – dengan air. Selanjutnya reaksi-reaksi ini menjadi rujukan dalam membahas kecenderungan kereaktifan pada Golongan 1.

Fakta-Fakta

Kereaktifan umum Golongan 1

Semua logam dari Golongan 1 bereaksi hebat dengan air dingin atau bahkan dapat meledak ketika bereaksi dengan air. Untuk masing-masing reaksi ini, terbentuk sebuah larutan logam hidroksida bersama dengan gas hidrogen.

Persamaan reaksi ini berlaku bagi reaksi logam manapun dari Golongan 1 dengan air – cukup ganti simbol X dengan unsur yang anda inginkan.

Berikut ini anda akan melihat reaksi yang terjadi apabila beberapa dari masing-masing logam Golongan 1 dimasukkan ke dalam air pada wadah yang cukup besar. Kita berasumsi bahwa logam yang dimasukkan jumlahnya sangat sedikit.

Kereaktifan masing-masing logam

Lithium

Berat jenis lithium hanya sekitar seperdua dari berat jenis air sehingga llithium mengapung pada permukaan air dan secara perlahan mengeluarkan gas hidrogen. Logam ini berangsur-angsur bereaksi dan menghilang, membentuk sebuah larutan tidak berwarna yaitu lithium hidroksida. Reaksi yang terjadi ini melepaskan panas dengan lambat dan titik lebur lithium masih terlalu tinggi untuk bisa melebur akibat panas tersebut (lihat untuk natrium berikut).

Natrium

Natrium juga mengapung pada permukaan, tapi panas yang dilepaskan oleh reaksi cukup untuk meleburkan natrium (natrium memiliki titik lebur yang lebih rendah dibanding lithium dan reaksi yang terjadi menghasilkan panas lebih cepat) dan natrium melebur hampir sekaligus membentuk sebuah bulatan perak kecil yang tersebar di atas permukaan. Ada bekas putih dari natrium hidroksida yang terlihat dalam air di bawah bulatan-bulatan natrium, tapi bekas-bekas itu segera terlarut menghasilkan larutan natrium hidroksida yang tidak berwarna.

Natrium bergerak-gerak pada permukaan karena ditekan dari segala arah oleh hidrogen yang terlepas selama reaksi. Jika natrium terjebak pada pinggir wadah, maka hidrogen bisa terbakar dan menghasilkan nyala orange. Warna ini ditimbulkan oleh kontaminasi nyala biru hidrogen oleh senyawa-senyawa natrium.

Kalium

Apa yang terjadi pada kalium agak mirip dengan natrium hanya saja reaksi berlangsung lebih cepat dan panas yang dilepaskan cukup untuk membakar hidrogen. Kali ini nyala hidrogen yang normalnya biru dikontaminasi oleh senyawa-senyawa kalium sehingga berubah menjadi pink kebiru-biruan.

Rubidium

Rubidium lebih padat dari air sehingga logam ini tenggelam. Logam ini bereaksi hebat dan spontan, dan kembali terjadi penyemburan komponen larutan dari dasar wadah. Reaksi menghasilkan larutan rubidium hidroksida dan hidrogen.

Cesium

Cesium meledak saat bersentuhan dengan air, bahkan bisa memecahkan wadah. Pada reaksi ini terbentuk cesium hidroksida dan hidrogen.

Ringkasan kecenderungan kereaktifan

Semakin ke bawah Golongan, logam-logam Golongan 1 menjadi semakin reaktif terhadap air.

Penjelasan Kecenderungan Kereaktifan

Perubahan entalpi untuk reaksi

Perubahan entalpi keseluruhan

Mungkin anda menganggap bahwa karena semakin ke bawah Golongan reaksi terjadi lebih cepat, maka semakin ke bawah mulai dari Lithium sampai Cesium jumlah panas yang dilepaskan juga akan semakin meningkat. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Tabel berikut memberikan perkiraan-perkiraan perubahan entalpi untuk masing-masing unsur yang mengalami reaksi ini:

perubahan entalpi (kJ / mol)
Li -222
Na -184
K -196
Rb -195
Cs -203

Anda akan melihat bahwa tidak ada pola sama sekali pada nilai-nilai di atas.. Semua nilai perubahan entalpi hampir sama, dan menariknya, lithium merupakan logam yang melepaskan paling banyak panas selama reaksi.

Mencermati perubahan entalpi

Ketika reaksi-reaksi di atas terjadi, perbedaan diantara reaksi-reaksi tersebut hanya terletak pada apa yang terjadi pada atom-atom logam yang terlibat. Pada masing-masing kasus di atas, reaksi dimulai dengan atom-atom logam dalam wujud padat dan berakhir dengan ion-ion logam dalam larutan.

Secara keseluruhan, yang terjadi pada logam adalah sebagai berikut:

Anda bisa menghitung perubahan entalpi keseluruhan untuk proses ini dengan menggunakan Hukum Hess dan menguraikannya dalam beberapa tahapan sehingga kita mengetahui nilai perubahan entalpinya.

Pertama, anda perlu mengetahui energi atomisasi untuk menghasilkan atom-atom logam yang berwujud gas.

Kemudian, ionkan logam dengan menyuplai energi ionisasi pertamanya.

Dan terakhir, anda akan mendapatkan entalpi hidrasi yang dilepaskan apabila ion dalam wujud gas bersentuhan dengan air.

ika kita memasukkan nilai-nilai untuk semua tahapan ini ke dalam sebuah tabel, maka akan terlihat seperti tabel di bawah ini (semua nilai dalam kJ/mol):

e. atomisasi EI pertama entalpi hid. total
Li +161 +519 -519 +161
Na +109 +494 -406 +197
K +90 +418 -322 +186
Rb +86 +402 -301 +187
Cs +79 +376 -276 +179

Jadi mengapa tidak ada pola pada nilai-nilai ini? Jika anda memperhatikan poin-poin berikut, maka anda akan menemukan bahwa energi atomisasi, energi ionisasi pertama, dan entalpi hidrasi semakin ke bawah golongan semakin berkurang :

  • Energi atomisasi merupakan sebuah ukuran kekuatan ikatan logam pada masing-masing unsur. Energi atomisasi ini berkurang apabila atom-atom semakin besar dan ikatan logam semakin panjang. Dalam atom-atom yang lebih besar, elektron-elektron terdelokalisasi lebih jauh jaraknya dari inti sehingga kurang dipengaruhi oleh gaya tarik inti.
  • Energi ionisasi pertama semakin berkurang karena elektron yang dilepaskan menjadi semakin jauh dari inti. Proton ekstra dalam inti disekat/terhalang oleh kulit-kulit elektron tambahan.
  • Entalpi hidrogen merupakan sebuah ukuran gaya tarik antara ion-ion logam dengan pasangan-pasangan bebas pada molekul-molekul air. Apabila ion-ion menjadi lebih besar, maka molekul air menjadi semakin jauh dari gaya tarik inti. Proton-proton ekstra dalam inti kembali disekat/terhalang oleh kulit-kulit elektron tambahan.

Jadi yang terjadi adalah bahwa semua faktor-faktor di atas berkurang dengan laju pengurangan yang berbeda. Inilah yang menyebabkan tidak adanya pola pada nilai perubahan entalpi.

Akan tetapi, kita bisa mencermati kembali tabel di atas dan akan menemukan sebuah pola yang bermanfaat.

Energi aktivasi untuk reaksi

Mari kita mengambil tabel terakhir di atas dan hanya mencermati input energinya saja, yaitu energi atomisasi dan energi ionisasi pertama – kedua energi ini perlu disuplai masing-masing untuk menghasilkan atom-atom logam yang berwujud gas dan untuk mengionkan logam. Dengan kata lain, kita menghilangkan entalpi hidrasi dan hanya menjumlahkan kedua input energi yang ada.

e. atomisasi EI pertama total
Li +161 +519 +680
Na +109 +494 +603
K +90 +418 +508
Rb +86 +402 +488
Cs +79 +376 +455

Sekarang anda bisa melihat bahwa terjadi penurunan konstan semakin ke bawah Golongan. Semakin ke bawah mulai dari lithium sampai cesium, lebih sedikit energi yang diperlukan oleh reaksi untuk membentuk ion positif. Energi ini akan direcovery kemudian (dengan banyak tambahan), tapi harus disuplai terlebih dahulu. Ini akan terkait dengan energi aktivasi dari reaksi.

Semakin rendah energi aktivasi, semakin cepat reaksi yang terjadi.

Jadi walaupun lithium melepaskan paling banyak panas selama reaksi, namun pelepasan ini berlangsung relatif lambat – tidak dilepaskan sekaligus dengan cepat. Disisi lain, cesium memiliki energi aktivitasi yang jauh lebih rendah, sehingga walaupun tidak melepaskan banyak panas, namun pelepasan ini berlangsung sangat cepat, itulah sebabnya terjadi ledakan saat berlangsung reaksi.

Ringkasan penyebab meningkatnya kereaktifan semakin ke bawah Golongan

Reaksi-reaksi akan lebih mudah terjadi jika energi yang dibutuhkan untuk membentuk ion-ion positif berkurang. Ini sebagian diakibatkan oleh berkurangnya energi ionisasi semakin ke bawah Golongan, dan sebagiannya lagi karena berkurangnya energi atomisasi yang mencerminkan ikatan logam yang semakin lemah dari lithium ke cesium. Ini menyebabkan energi aktivasi yang lebih rendah, sehingga reaksi-reaksi berlangsung lebih cepat.
Gunakan fasilitas pencarian kata dibawah ini untuk mencari kata di chem-is-try.org

Reaksi Unsur-unsur Golongan 1 dengan Oksigen dan KlorinHalaman ini utamanya akan membahas reaksi unsur-unsur Golongan 1 (lithium, natrium, kalium, rubidium, dan cesium) dengan oksigen – termasuk reaksi-reaksi sederhana dari berbagai jenis oksida yang terbentuk. Disini juga kita menyinggung tentang reaksi unsur-unsur ini dengan klorin.

Reaksi dengan Udara atau Oksigen

Reaksi secara umum

Semua logam pada Golongan 1 ini sangat reaktif dan harus dihindarkan dari bersentuhan dengan udara untuk mencegah terjadinya oksidasi. Semakin ke bawah Golongan, kereaktifan semakin meningkat.

Lithium, natrium dan kalium disimpan di dalam minyak. (Lithium sebenarnya mengapung dalam minyak, tapi terdapat cukup banyak lapisan minyak untuk melindunginya. Itulah sebabnya lithium kurang reaktif dibanding unsur lain dalam Golongan 1).

Rubidium dan cesium biasanya disimpan dalam tabung-tabung kaca tertutup untuk mencegahnya bersentuhan dengan udara. Tabung-tabung tempat menyimpan kedua logam ini bisa berupa lingkungan gas vakum atau lembam, seperti gas argon. Tabung-tabung ini dipecahkan tutupnya jika logam didalamnya akan digunakan.

Jika logam-logam pada Golongan 1 ini dibakar maka akan terbentuk beberapa jenis oksida, tergantung pada posisi logam dalam Golongan (rinciannya akan dibahas berikut). Reaksi khusus dengan oksigen hanya merupakan versi yang lebih lambat dari reaksi dengan udara secara umum.

Lithium cukup berbeda dengan logam lain dalam Golongan ini karena dia juga bereaksi dengan nitrogen dalam udara menghasilkan lithium nitrida (lihat rincian berikut).

Reaksi masing-masing logam dengan oksigen

Lithium

Lithium akan terbakar dengan nyala merah terang jika dipanaskan di udara. Logam ini bereaksi ini dengan oksigen dalam udara menghasilkan lthium oksida yang berwarna putih. Jika bereaksi dengan oksigen murni, nyala biasanya lebih terang.

Lithium juga bereaksi dengan nitrogen di udara menghasilkan lithium nitrida. Lithium merupakan satu-satunya unsur pada Golongan 1 yang dapat membentuk nitrida dengan cara seperti ini.

Natrium

Potongan-potongan kecil natrium terbakar di udara dan sering menimbulkan nyala yang sedikit lebih terang dari warna orange. Jika jumlah natrium yang lebih besar digunakan atau jika dibakar di dalam oksigen maka akan menghasilkan nyala orange yang cemerlang. Terbentuk campuran padatan antara oksida dan natrium peroksida.

Persamaan reaksi untuk pembentukan oksida sederhana mirip dengan yang terjadi pada lithium.

Persamaan reaksi peroksida adalah:

Kalium

Potongan-potongan kecil kalium yang dipanaskan di udara cenderung hanya melebur dan dengan cepat kembali menjadi campuran kalium peroksida dan kalium superoksida tanpa ada nyala yang terlihat. Jika potongan-potongan kalium yang lebih besar dipanaskan, maka akan terbentuk nyala berwarna pink kebiru-biruan.

Persamaan reaksi untuk pembentukan peroksida tepat seperti yang terjadi pada natrium di atas:

dan untuk superoksida, memiliki persamaan reaksi:

Rubidium and cesium

Kedua logam ini terbakar di udara dan menghasilkan superoksida yaitu RbO2 and CsO2. Persamaan reaksinya sama seperti persamaan reaksi untuk kalium.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa kedua superoksida ini berwarna orange atau kuning. Salah satu situs utama menyebutkan superoksida rubidium berwarna coklat tua pada salah satu halaman webnya dan berwarna orange pada halaman web lainnya.

Nyala yang terbentuk saat reaksi terjadi belum dicermati lebih lanjut. Anda tidak bisa memastikan bahwa nyala yang timbul dari pembakaran logam akan sama dengan warna nyala dari senyawa-senyawanya.

Mengapa semakin ke bawah Golongan oksida yang terbentuk berbeda-beda?

  • Lithium (dan juga natrium sampai tingkatan tertentu) membentuk oksida-oksida sederhana, X2O, yang mengandug ion O2- umum.
  • Natrium (dan juga kalium sampai tingkatan tertentu) membentuk peroksida, X2O2, yang mengandung ion O22- yang lebih kompleks (akan dibahas berikut).
  • Kalium, rubidium dan cesium membentuk superoksida, XO2. Struktur ion superoksida, O2, sangat sulit dibahas pada tingkatan modul ini, untuk memahaminya diperlukan pemahaman yang baik tentang teori orbital molekul.

Ion-ion yang lebih kompleks tidak stabil dengan adanya sebuah ion positif kecil. Perhatikan ion peroksida misalnya.

Ion peroksida, O22- memiliki struktur seperti berikut:

Ikatan kovalen antara kedua atom oksigen relatif lemah.

Sekarang bayangkan ada sebuah ion positif kecil yang mendekat ke ion peroksida. Elektron-elektron dalam ion peroksida akan tertarik dengan kuat ke arah ion positif tersebut. Ini kemudian mendukung untuk membentuk sebuah ion oksida sederhana jika atom oksigen di sebalah kanan (seperti digambarkan berikut) terputus.

Kita mengatakan bahwa ion positif mempolarisasikan ion negatif. Mekanisme ini akan berlangsung paling baik apabila ion positif berukuran kecil dan bermuatan banyak, yaitu jika memiliki kepadatan muatan yang tinggi..

Walaupun hanya memiliki satu muatan, tetapi ion lithium yang berada paling di atas Golongan 1 cukup kecil dan memiliki kepadatan muatan yang tinggi sehingga setiap ion peroksida di dekatnya akan terurai menjadi sebuah oksida dan oksigen. Semakin ke bawah Golongan sampai pada natrium dan kalium, ion-ion positif semakin besar sehingga tidak memiliki begitu banyak pengaruh terhadap ion peroksida.

Ion-ion superoksida bahkan lebih mudah tertarik menjauh, dan ion-ion superoksida ini hanya stabil dengan adanya ion-ion besar dari unsur-unsur paling bawah dalam Golongan.

Jadi mengapa setiap logam-logam ini membentuk oksida-oksida yang lebih kompleks? Ini merupakan persoalan energetik.

Jika terdapat cukup oksigen, logam-logam ini menghasilkan senyawa yang pembentukannya melepaskan paling banyak energi. Sehingga menghasikan senyawa yang paling stabil.

Jumlah panas yang terbentuk per mol rubidium dalam membentuk berbagai oksidanya adalah:

perubahan entalpi (kJ / mol of Rb)
Rb2O -169.5
Rb2O2 -236
RbO2 -278.7

Untuk berbagai oksida kalium, nilai perubahan entalpinya menunjukkan kecenderungan-kecenderungan yang sama persis dengan rubidium. Selama terdapat cukup oksigen, pembentukan peroksida akan melepaskan lebih banyak energi per mol logam dibanding pembentukan oksida sederhana. Pembentukan superoksida melepaskan energi bahkan lebih banyak.

Kita berasumsi bahwa hal yang sama juga berlaku bagi oksida-oksida cesium, walaupun kita tidak menyajikan nilai-nilainya disini sehingga bisa dicocokkan.

Ringkasan

Pembentukan oksida-oksida yang lebih kompleks dari logam-logam pada Golongan 1 ini akan melepaskan lebih banyak energi dan menjadikan senyawa yang terbentuk lebih stabil dari segi energi. Akan tetapi, ini hanya berlaku bagi logam-logam pada setengah unsur terbawah dalam Golongan yang ion-ion logamnya cukup besar dan memilki kepadatan muatan yang rendah.

Pada bagian atas Golongan, ion-ion kecil dengan kepadatan muatan yang lebih tinggi cenderung mempolarisasikan ion-ion oksida yang lebih kompleks sampai menjadi terurai.

Reaksi Oksida

Oksida-oksida sederhana, X2O

Reaksi dengan air

Oksida-oksida dasar yang sederhana jika bereaksi dengan air akan menghasilkan hidroksida logam.

Sebagai contoh, lithium oksida bereaksi dengan air menghasilkan larutan lithium hidroksida yang tidak berwarna.

Reaksi dengan asam-asam encerOksida-oksida sederhana ini semuanya bereaksi dengan asam menghasilkan garam dan air. Sebagai contoh, natrium oksida akan bereaksi dengan asam hidroklorat encer menghasilkan larutan natrium klorida yang tidak berwarna dan air.

Peroksida, X2O2

Reaksi dengan air

Jika reaksi berlangsung pada suhu dingin (dan suhu dipertahankan sehingga tidak meningkat walaupun reaksi-reaksi ini sangat bersifat eksotermis), maka akan terbentuk hidroksida logam dan hidrogen peroksida.

Jika suhu meningkat (sebagaimana yang akan terjadi kecuali jika peroksida dimasukkan ke dalam air dengan sangat dan sangat perlahan), maka hidrogen peroksida yang dihasilkan akan terdekomposisi menjadi air dan oksigen. Reaksi ini bisa berlangsung sangat hebat.

Reaksi dengan asam-asam encer

Reaksi-reaksi peroksida dengan asam-asam encer lebih bersifat eksotermis dibanding reaksi peroksida dengan air. Pada reaksi ini terbentuk garam dan hidrogen peroksida. Hidrogen peroksida akan terdekomposisi menghasilkan air dan oksigen jika suhu meningkat – lagi-lagi, peningkatan suhu ini hampir tidak bisa dihindari. Reaksi yang hebat pun terjadi.

Superoksida, XO2

Reaksi dengan air

Reaksi superoksida dari Golongan 1 dengan air akan membentuk hidroksida logam dan hidrogen peroksida, tapi gas oksigen juga dilepaskan. Sekali lagi, reaksi-reaksi ini sangat eksotermis dan panas yang dihasilkan tidak dapat dihindarkan mendekomposisi hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen. Lagi-lagi, reaksi ini berlangsung hebat.

Reaksi dengan asam-asam encer

Reaksi peroksida dengan asam-asam encer bahkan lebih bersifat eksotermis dibandnig reaksinya dengan air. Pada reaksi ini terbentuk sebuah larutan yang mengandung garam dan hidrogen peroksida bersama dengan gas oksigen. Hidrogen peroksida kembali terdekomposisi menghasilkan air dan oksigen apabila suhu meningkat. Reaksi ini berlangsung hebat.

Reaksi unsur-unsur Golongan 1 dengan klorin

Pembahasan tentang reaksi unsur Golongan 1 dengan klorin dimasukkan di dalam halaman ini karena adanya kemiripan antara reaksi logam-logam Golongan 1 dengan klorin dan dengan oksigen.

Sebagai contoh, natrium akan terbakar dengan nyala orange terang jika bereaksi dengan klorin, persis seperti ketika bereaksi dengan oksigen murni. Unsur-unsur lain juga berperilaku sama terhadap kedua gas ini.

Baik pada raksi dengan oksigen maupun degan klorin, terdapat residu padat berwarna putih yang merupakan klorida sederhana, XCl. Tidak ada yang rumit dengan reaksi-reaksi ini.

Gunakan fasilitas pencarian kata dibawah ini untuk mencari kata di chem-is-try.org

Beberapa Senyawa dari Unsur-unsur Golongan 1

Halaman ini meninjau tentang beberapa senyawa dari unsur-unsur Golongan 1 (lithium, natrium, kalium, rubidium dan cesium). Anda akan menemukan beberapa informasi tentang nitrat, karbonat, hidrogenkarbonat dan hidrida-hidrida dari logam-logam ini.

Pertama-tama kita akan melihat apa yang terjadi pada beberapa senyawa ini jika dipanaskan, dan selanjutnya kita akan membahas tentang kelarutannya masing-masing. Di penghujung halaman, anda akan menemukan sebuah bagian yang membahas tentang pembentukan dan reaksi-reaksi hidrida logam.

Pengaruh panas terhadap senyawa-senyawa Golongan 1

Fakta-fakta

Senyawa-senyawa dari unsur-unsur Golongan 1 lebih stabil terhadap panas dibanding senyawa-senyawa dari unsur-unsur Golongan 2. Dalam pembahasan selanjutnya anda akan sering menemukan bahwa senyawa-senyawa lithium memiliki karakteristik yang mirip dengan senyawa-senyawa dari unsur-unsur Golongan 2, tetapi senyawa unsur-unsur lainnya dari Golongan 1 cukup berbeda.

Pemanasan nitrat

Jika dipanaskan, kebanyakan nitrat cenderung mengalami dekomposisi membentuk oksida logam, nitrogen dioksida berupa asap coklat, dan oksigen.

Sebagai contoh, nitrat Golongan 2 yang sederhana seperti magnesium nitrat mengalami dekomposisi dengan reaksi sebagai berikut :

Pada Golongan 1, ithium nitrat mengalami proses dekomposisi yang sama – menghasilkan lithium oksida, nitrogen dioksida dan oksigen.

Akan tetapi, nitrat dari unsur selain lithium dalam Golongan 1 tidak terdekomposisi sempurna (minimal tidak terdekomposisi pada suhu Bunsen) – menghasilkan logam nitrit dan oksigen, tapi tidak menghasilkan nitrogen oksida.

Semua nitrat dari natrium sampai cesium terdekomposisi menurut reaksi di atas, satu-satunya yang membedakan adalah panas yang harus dialami agar reaksi bisa terjadi. Semakin ke bawah golongan, dekomposisi akan semakin sulit, dan dibutuhkan suhu yang lebih tinggi.

Pemanasan karbonat

Jika dipanaskan, kebanyakan karbonat cenderung mengalami dekomposisi membentuk oksida logam dan karbon dioksida.

Sebagai contoh, karbonat Golongan 2 sederhana seperti kalsium karbonat terdekomposisi sebagai berikut:

Pada Golongan 1, lithium karbonat mengalami proses dekomposisi yang sama – menghasilkan lithium oksida dan karbon dioksida.

Karbonat dari unsur-unsur selain lithium pada Golongan 1 tidak terdekomposisi pada suhu Bunsen, walaupun pada suhu yang lebih tinggi mereka akan terdekomposisi. Suhu dekomposisi lagi-lagi meningkat semakin ke bawah Golongan.

Stabilitas termal hidrogenkarbonat

Hidrogenkarbonat Golongan 2 seperti kalsium hidrogenkarbonat sangat tidak stabil terhadap panas sehingga hanya terdapat sebagai larutan. Setiap upaya untuk mengeluarkannya dari larutan akan menyebabkan senyawa hidrogenkarbonat tersebut terdekomposisi membentuk karbonat, karbondioksida dan air.

Sebaliknya, hidrogenkarbonat Golongan 1 cukup stabil dalam wujud padat, walaupun mudah terdekomposisi jika dipanaskan. Sebagai contoh, untuk natrium hidrogenkarbonat:

Penjelasan kecenderungan stabilitas termal

Disini kita akan menjelaskan secara rinci tentang stabilitas termal senyawa-senyawa karbonat karena diagram-diagram untuk karbonat lebih muda dibuat. Begitu juga dengan senyawa-senyawa nitrat atau hidrogenkarbonat.

Ada dua cara untuk menjelaskan meningkatnya stabilitas termal semakin ke bawah Golongan. Cara yang sulit berkenaan dengan energetika dari proses; cara sederhana adalah dengan melihat kemampuan polarisasi dari ion-ion positif.

Penjelasan kecenderungan dalam hal kemampuan polarisasi ion positif

Sebuah ion positif yang kecil memiliki banyak muatan yang tertata dalam sebuah ruang yang bervolume kecil – khususnya jika ion tersebut memiliki lebih dari satu muatan positif. Ion ini memiliki kepadatan muatan yang tinggi dan memiliki efek distorsi yang besar terhadap setiap ion negatif yang terdapat di dekatnya.

Ion positif yang lebih besar memiliki muatan yang sama seperti ion positif yang kecil seperti disebutkan di atas, hanya saja muatannya tersebar pada ruang yang bervolume lebih besar. Kepadatan muatannya lebih rendah, dan menyebabkan efek distorsi yang lebih kecil terhadap ion-ion negatif di dekatnya.

Struktur ion karbonat

Jika kita menggambarkan struktur sebuah ion karbonat dengan mengunakan “titik-dan-garis” atau beberapa metode yang serupa, maka hasilnya kurang lebih seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar ini menunjukkan dua ikatan tunggal antara karbon-oksigen dan satu ikatan rangkap, dimana dua dari oksigen masing-masing membawa satu muatan negatif. Sayangnya, pada ion karbonat yang sebenarnya semua ikatan identik, dan muatan-muatan tersebar pada seluruh ion – walaupun sebenarnya terpusat pada atom-atom oksigen. Muatan-muatan ini dikatakan terdelokalisas.

Ikatan pada ion karbonat ini mirip dengan ikatan pada benzen atau pada ion-ion seperti etanoat, hanya saja sedikit lebih rumit. Untuk topik yang dibahas di halaman ini, anda tidak perlu memahami bagaimana ikatan ini bisa terbentuk.

Gambar berikut menunjukkan elektron-elektron yang terdelokalisasi. Daun yang digambarkan dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa elektron-elektron terdelokalisasi lebih besar kemungkinannya ditemukan di sekitar atom oksigen dibanding di dekat atom karbon.

Polarisasi ion karbonat

Sekarang coba anda bayangkan apa yang terjadi jika ion ini ditempatkan di dekat sebuah ion positif. Ion positif akan menarik elektron-elektron terdelokalisasi dalam ion karbonat ke arahnya. Ion karbonat menjadi mengutub (terpolarisasi). Gambar berikut menunjukkan apa yang terjadi dengan sebuah ion dari Golongan 2, yang membawa dua muatan positif.

Jika dipanaskan, karbondioksida akan terlepas meninggalkan oksida logam yang terbentuk.

Besarnya suhu yang diperlukan untuk memanaskan karbonat agar terbentuk karbondioksida dan oksida logam, tergantung pada seberapa besar polarisasi dari ion tersebut. Jika ion mengalami polarisasi yang tinggi, maka hanya sedikit panas yang diperlukan dibanding jika ion hanya sedikit terpolarisasi.

Jika ion positif hanya memiliki satu muatan positif, maka efek polarisasi akan lebih kecil. Itulah sebabnya mengapa senyawa-senyawa Golongan 1 lebih stabil secara termal dibanding senyawa-senyawa Golongan 2. Lebih banyak panas yang diperlukan untuk senyawa Golongan 1 karena ion-ion karbonat kurang terpolarisasi akibat ion positif yang bermuatan tunggal.

Semakin kecil ion positif, semakin tinggi kepadatan muatan, dan semakin besar efek yang akan ditimbulkan terhadap ion karbonat. Semakin ke bawah Golongan, ion-ion positif semakin besar sehingga memiliki efek yang lebih kecil terhadap ion-ion karbonat di dekatnya. Sebagai konsekuensinya, lebih banyak panas yang diperlukan untuk melepaskan karbon dioksida dan membentuk oksida logam.

Dengan kata lain, semakin ke bawah Golongan, senyawa-senyawa karbonat semakin stabil secara termal.

Bagaimana dengan nitrat dan hidrogenkarbonat?

Polarisasi utuk nitrat dan hidrogenkarbonat sama persis seperti karbonat. Ion-ion positif yang kecil di bagian atas Golongan lebih kuat dalam mempolarisasi ion nitrat atau hidrogenkarbonat dibanding ion-ion positif yang lebih besar di bagian bawah golongan.

Dan lagi-lagi, senyawa-senyawa Golongan 1 memerlukan lebih banyak panas dibanding senyawa Golongan 2 karena ion-ion Golongan 1 memiliki efek polarisasi yang lebih kecil.

Kelarutan senyawa-senyawa Golongan 1

Fakta-fakta

Pada tingkatan pembahasan ini, hal yang penting untuk diingat adalah bahwa senyawa-senyawa dari unsur-unsur Golongan 1 cenderung lebih larut dibanding senyawa-senyawa yang sama dari usur-unsur Golongan 2.

Karbonat

Sebagai contoh, karbonat Golongan 2 hampir tidak larut dalam air. Magnesium karbonat (senyawa paling dapat larut yang diketahui) dapat larut sampai sekitar 0,02 per g per 100 g air pada suhu kamar.

Sebaliknya, karbonat Golongan 1 yang paling tidak larut adalah lithium karbonat. Larutan lithium karbonat yang jenuh memiliki konsentrasi sekitar 1,3 g per 100 g air pada suhu 20°C. arbonat lain dari unsur-unsur Golongan 1 dianggap sangat larut – dengan konsentrasi yang melonjak 261,5 g per 100 g air pada suhu ini (20°C) ntuk cesium karbonat.

Kelarutan karbonat meningkat semakin ke bawah Golongan 1.

Hidroksida

Hidroksida yang paling tidak dapat larut pada Golongan 1 adalah lithium hdiroksida – tapi masih memungkinkan untuk membuat larutannya dengan konsentrasi 12,8 per g per 100 g air pada suhu 20°C. Hidroksida-hidroksida lain dalam Golongan ini bahkan lebih larut lagi.

SKelarutan hidroksida meningkat semakin ke bawah Golongan 1.

Pada Golongan 2, hidroksida yang paling dapat larut adalah barium hidroksida – dan hanya mungkin membuat larutannya dengan konsentrasi sekitar 3,9 per 100 g air pada suhu yang sama (20°C).

Penjelasan tentang kecenderungan kelarutan tidak akan dibahas disini!

Dibutuhkan waktu yang sangat panjang untuk membahas kecenderungan kelarutan. Jika anda telah membaca bagian Golongan 2 dari Tabel Periodik, anda bisa mengetahui mengapa penjelasan yang biasa diberikan untuk kecenderungan-kecenderungan kelarutan tidak berlaku pada tingkatan ini.

Menjelaskan kecenderungan pada Golongan 2 cukup sulit. Membandingkan kencenderungan ini dengan Golongan 1 lebih sulit lagi – khususnya untuk karbonat, karena kecenderungan-kecenderungan pada dua Golongan ini memiliki arah yang berlawanan. Semakin ke bawah Golongan 1, karbonat semakin larut, tetapi semakin ke bawah Golongan 2, cenderung semakin kurang larut.

Hal ini sangat sulit dijelaskan pada tingkatan ini – dan kita tidak menjelaskannya di sini. Anda tidak memerlukan penjelasan tersebut untuk pmbahasan dasar bagi Golongan 1. Cukup pelajari bahwa senyawa-senyawa Golongan 1 cenderung lebih larut daripada bandingannya dari Golongan 2.

Hidrida Golongan 1

Hidrida-hidrida larutan garam (mirip-garam)

Hidrida dari logam-logam Golongan 1 adalah padatan-padatan kristal berwara putih yang mengandung ion-ion logam dan ion-ion hidrida, H. Hidrida-hidrida ini memiliki struktur kristal yang sama persis dengan natrium klorida – itulah sebabnya mengapa disebut hidrida larutan garam atau hidrida mirip-garam.

Karena hidrida-hidrida ini bisa bereaksi cepat dengan air atau udara lembab, maka mereka biasanya disimpan sebagai suspensi dalam minyak mineral.

Pembuatan hidrida-hidriga Golongan 1

Hidrida-hidrida dari logam-logam Golongan 1 dibuat dengan cara menyalurkan gas hidrogen pada logam yang dipanaskan. Sebagai contoh, untuk lithium hidrida :

Reaksi hidrida Golongan 1

Reaksi-reaksi hidrida Golongan 1 yang dibahas disini akan dibatasi pada dua reaksi yang paling besar kemungkinannya diperlukan dalam pembahasan tingkat dasar.

Elektrolisis

Jika dipanaskan, kebanyakan dari hidrida Golongan 1 akan terdekomposisi kembali menjadi logam dan hidrogen sebelum melebur. Akan tetapi, kita bisa meleburkan lithium hidrida dan mengelektrolisis leburannya.

Logam dilepaskan pada katoda dan hidrogen dilepaskan pada anoda (elektroda positif) dan ini merupakan bukti tentang adanya ion hidrida negatif dalam lithium hidrida.

Persamaan pada anoda adalah :

Hidrida-hidrida Golongan 1 lainnya bisa dielektrolisis dalam larutan pada berbagai campuran leburan seperti campuran lithium klorida dan kalium klorida. Campuran-campuran seperti ini akan melebur pada suhu yang lebih rendah dibanding klorida murni.

Reaksi dengan air

Hidrida-hidrida ini bereaksi hebat dengan air, melepaskan gas hidrogen dan menghasilkan hidroksida logam.

Sebagai contoh, natrium hidrida bereaksi degan air menghasilkan sebuah larutan natrium hidroksida dan gas hidrogen.


Gunakan fasilitas pencarian kata dibawah ini untuk mencari kata di chem-is-try.org

Uji Nyala

Halaman ini menguraikan bagaimana melakuan sebuah uji nyala untuk berbagai ion logam, dan secara ringkas menjelaskan bagaimana warna nyala bisa terbentuk.

Uji nyala digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan ion logam dalam jumlah yang relatif kecil pada sebuah senyawa. Tidak semua ion logam menghasilkan warna nyala.

Untuk senyawa-senyawa Golongan 1, uji nyala biasanya merupakan cara yang paling mudah untuk mengidentifikasi logam mana yang terdapat dalam senyawa. Untuk logam-logam lain, biasanya ada metode mudah lainnya yang lebih dapat dipercaya – meski demikian uji nyala bisa memberikan petunjuk bermanfaat seperti metode mana yang akan dipakai.

Melakukan uji nyala

Rincian prosedur

Bersihkan sebuah kawat platinum atau nichrome (sebuah alloy nikel-kromium) dengan mencelupkannya ke dalam asam hidroklorat pekat dan kemudian panaskan pada Bunsen. Ulangi prosedur ini sampai kawat tidak menimbulkan warna pada nyala api Bunsen.

Jika kawat telah bersih, basahi kembali dengan asam dan kemudian celupkan ke dalam sedikit bubuk padatan yang akan diuji sehingga ada beberapa bubuk padatan yang menempel pada kawat tersebut. Setelah itu pasang kembali kawat pada nyala Bunsen.

Jika warna nyala memudar, masukkan kembali kawat ke dalam asam dan pasang kembali pada nyala seolah-olah anda sedang membersihkannya. Dengan melakukan ini, anda akan sering melihat kilasan warna yang sangat singkat namun intensif.

Warna

Warna-warna yang ada pada tabel berikut hanya merupakan panduan. Hampir setiap orang yang melakukan uji nyala berbeda dalam mengamati dan menjelaskan warna yang terjadi. Sebagai contoh, beberapa orang menggunakan kata “merah” beberapa kali untuk menunjukkan beberapa warna yang bisa sangat berbeda satu sama lain. Disamping itu, ada juga yang menggunakan kata seperti “merah padam” atau “merah tua” atau “merah gelap”, tapi tidak semua orang mengetahui perbedaan antara kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan warna ini.

warna nyala
Li merah
Na orange cemerlang terus menerus
K lilac (pink)
Rb merah (lembayung kemerah-merahan)
Cs biru? lembayung? (lihat berikut)
Ca orange-merah
Sr merah
Ba hijau pucat
Cu biru-hijau (sering disertai percikan berwarna putih)
Pb putih keabu-abuan

Apa yang akan anda lakukan jika anda mengamati warna nyala merah untuk sebuah senyawa yang tidak diketahui dan anda tidak tahu variasi warna merah tersebut?

Ambil sampel senyawa lithium, strontium (dll) dan ulangi uji nyala, bandingkan warna yang dihasilkan oleh salah satu dari senyawa yang diketahui dengan senyawa yang tidak diketahui secara bergantian sampai anda mendapatkan pasangan yang cocok.

Asal-usul warna nyala

Warna nyala dihasilkan dari pergerakan elektron dalam ion-ion logam yang terdapat dalam senyawa.

Sebagai contoh, sebuah ion natrium dalam keadaan tidak tereksitasi memiliki struktur 1s22s22p6.

Jika dipanaskan, elektron-elektron akan mendapatkan energi dan bisa berpindah ke orbital kosong manapun pada level yang lebih tinggi – sebagai contoh, berpindah ke orbital 7s atau 6p atau 4d atau yang lainnya, tergantung pada berapa banyak energi yang diserap oleh elektron tertentu dari nyala.

Karena sekarang elektron-elektron berada pada level yang lebih tinggi dan lebih tidak stabil dari segi energi, maka elektron-elektron cenderung turun kembali ke level dimana sebelumnya mereka berada – tapi tidak musti sekaligus.

Sebuah elektron yang telah tereksitasi dari level 2p ke sebuah orbital pada level 7 misalnya, bisa turun kembali ke level 2p sekaligus. Perpindahan ini akan melepaskan sejumlah energi yang dapat dilihat sebagai cahaya dengan warna tertentu.

Akan tetapi, elektron tersebut bisa turun sampai dua tingkat (atau lebih) dari tingkat sebelumnya. Misalnya pada awalnya di level 5 kemudian turun sampai ke level 2.

Masing-masing perpindahan elektron ini melibatkan sejumlah energi tertentu yang dilepaskan sebagai energi cahaya, dan masing-masing memiliki warna tertentu.

Sebagai akibat dari semua perpindahan elektron ini, sebuah spektrum garis yang berwarna akan dihasilkan. Warna yang anda lihat adalah kombinasi dari semua warna individual.

Besarnya lompatan/perpindahan elektron dari segi energi, bervariasi dari satu ion logam ke ion logam lainnya. Ini berarti bahwa setiap logam yang berbeda akan memiliki pola garis-garis spektra yang berbeda, sehingga warna nyala yang berbeda pula.
Gunakan fasilitas pencarian kata dibawah ini untuk mencari kata di chem-is-try.org

6 Tanggapan to “44. GOLONGAN IA”

  1. cevhy15satelit Says:

    Sangat membantu…

  2. junianataslima Says:

    thanks a lot sir for helping me study🙂

  3. gisnawirdya Says:

    makasih pak atas info nya, ini dapat membantu sya dalam banyak hal

  4. selvyanyayu Says:

    terima kasih pak atas informasinya, info ini sangat membantu sekali dalam proses apapun.

  5. devydestiani Says:

    trimakasih Pak atas ilmu yang telah bapak berikan🙂

  6. putudarmawan Says:

    terima ksih infonya pak, semoga berguna ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: